Dari Ambon, Upaya Nyata PNM Wujudkan SDG 5 Lewat PNM Humanity

CM, Maluku

Kesadaran akan kesehatan reproduksi dan perlindungan diri bagi perempuan semakin menjadi perhatian dalam upaya membangun kualitas hidup masyarakat yang setara, khususnya perempuan di tingkat akar rumput. Hal ini sejalan dengan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), poin 5 tentang kesetaraan gender, yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam pembangunan. 

Di Ambon, upaya tersebut tercermin melalui kegiatan bertajuk “Madani Sehat dan Terlindungi” yang diinisiasi salah satu lembaga keuangan plat merah yang berfokus mensejahterakan perempuan prasejahtera melalui program PNM Mekaar. Kali ini, PNM melalui program PNM Humanity. Kegiatan ini diikuti oleh 100 karyawan dan 50 nasabah, menghadirkan ruang belajar bersama yang tidak hanya membahas aspek ekonomi, tetapi juga membuka percakapan penting mengenai kesehatan reproduksi dan seksual secara lebih terbuka dan bertanggung jawab.

Edukasi yang disampaikan dalam kegiatan ini dikemas secara interaktif agar mudah dipahami oleh seluruh peserta. Selain membahas kesehatan reproduksi dan seksual, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya perlindungan asuransi sebagai langkah preventif dalam menghadapi berbagai risiko kehidupan. Kolaborasi dengan BRILife turut memperkuat materi yang diberikan, sekaligus memperluas perspektif peserta bahwa perlindungan diri merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan, bukan sekadar kebutuhan tambahan.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan sudut pandang baru yang sebelumnya jarang didapatkan. “Selama ini kami lebih banyak fokus pada usaha, tapi lewat kegiatan ini saya jadi lebih paham bahwa menjaga kesehatan diri juga penting, apalagi sebagai perempuan yang punya peran besar di keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Pemimpin Cabang PNM Ambon, Taufiq Marsuki, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pemberdayaan yang lebih utuh. “Perempuan adalah fondasi dalam ekonomi keluarga. Ketika mereka memiliki pemahaman yang baik tentang kesehatan dan perlindungan diri, maka dampaknya tidak hanya pada individu, tetapi juga pada keluarga dan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Melalui pendekatan yang menyeluruh ini, pemberdayaan tidak lagi dipandang semata sebagai akses terhadap pembiayaan, tetapi juga sebagai proses membangun kesadaran dan ketahanan diri. Langkah ini sejalan dengan upaya menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam menciptakan ekonomi kerakyatan yang lebih kuat, sehat, dan berkelanjutan di masyarakat.(CM)