Festival Benteng Nieuw Victoria 2026 Meriah, Warisan Budaya Didorong Jadi Penggerak Ekonomi
CM,Maluku
Ribuan warga Kota Ambon memadati Lapangan Merdeka Ambon, Senin (7/9), dalam pembukaan Festival Benteng Nieuw Victoria 2026 yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku.
Festival yang berlangsung selama dua hari, 7–8 September 2026, itu tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga membawa pesan besar : menjadikan warisan budaya sebagai kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Kepala BPK Maluku, Dody Wiranto, S.S., M.Hum., mengatakan Festival Benteng Nieuw Victoria merupakan bagian dari implementasi program Pemajuan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Menurutnya, arah kebijakan kebudayaan saat ini tidak lagi menempatkan budaya semata sebagai beban anggaran. Sebaliknya, kebudayaan didorong menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi baru melalui sektor kreatif.
“Prinsip ini pula yang menjadi arah kerja Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia saat ini, di mana kebudayaan diposisikan sebagai hulu yang melahirkan nilai tambah ekonomi di sektor kreatif, mulai dari kuliner, kriya, fashion, musik, hingga pariwisata berbasis budaya,” ujar Dody.
Ia menyebut keberhasilan sejumlah negara, seperti Korea Selatan dan India, dalam mengembangkan warisan budaya menjadi kekuatan industri kreatif dunia menjadi salah satu gambaran arah kebijakan tersebut.
Semangat itu kemudian diterjemahkan BPK Maluku melalui Festival Benteng Nieuw Victoria 2026. Cagar budaya dan warisan budaya takbenda Maluku didorong tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber penguatan ekonomi budaya, ketahanan pangan, dan pembangunan budaya berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.
Benteng Nieuw Victoria Jadi Ikon Festival tahun ini mengangkat Benteng Nieuw Victoria sebagai ikon utama. Benteng yang berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional tersebut dipandang memiliki nilai sejarah penting bagi perjalanan Kota Ambon.
Dody mengatakan Benteng Nieuw Victoria bukan sekadar bangunan tua peninggalan masa kolonial. Benteng itu menjadi bagian dari sejarah panjang Ambon sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, sekaligus ruang pertemuan berbagai kebudayaan di kawasan timur Indonesia.
“Katong samua tahu, Ambon Manise ini su lama diakui dunia sebagai UNESCO Creative City of Music sejak tahun 2019. Predikat ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab untuk terus merawat kehidupan musik dan seni budaya sebagai bagian dari identitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat Ambon,” katanya.
Mengusung tema “Merangkai Warisan Budaya Dalam Harmoni”, festival tersebut ingin mempertemukan berbagai unsur kebudayaan Maluku dalam satu ruang bersama.
Dody mengatakan tema itu merepresentasikan semangat merawat, menghubungkan, dan mengaktualisasikan warisan budaya yang hidup di Maluku sebagai rumah bersama masyarakat lintas pulau, suku, bahasa, dan tradisi.
“Ale rasa, beta rasa, katong samua basudara.
Itulah semangat yang ingin kami hadirkan melalui festival ini,” ujarnya.
Karnaval hingga Bazar UMKM
Sejumlah agenda budaya disiapkan untuk memeriahkan festival.
Salah satunya Karnaval Budaya yang melibatkan 10 paguyuban Nusantara serta 15 kelompok seni dan komunitas budaya di Maluku.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran keberagaman budaya sekaligus pesan persatuan dalam kehidupan masyarakat Maluku.
Festival juga menghadirkan Talk Show Kebudayaan yang membahas pelestarian cagar budaya dan pemajuan kebudayaan. Dialog publik itu melibatkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, militer, dan praktisi budaya.
Sementara itu, Pameran Budaya menghadirkan 15 stan yang diikuti Balai Pelestarian Kebudayaan dari berbagai daerah, Pemerintah Kota Ambon, serta sejumlah mitra lainnya.
Permainan tradisional Maluku juga mendapat ruang khusus. Panitia memperkenalkan kembali permainan rakyat Assen dan Gici-Gici Lemon Nipis kepada generasi muda.
Dari sisi ekonomi, festival menghadirkan 61 tenda Bazar UMKM yang menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha kuliner, kriya, dan fashion berbasis budaya Maluku.
Kehadiran bazar tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong produk budaya lokal agar memiliki nilai ekonomi dan mampu berkembang di tingkat akar rumput.
Seni, Musik, dan Identitas Ambon
Rangkaian kegiatan semakin semarak dengan Pagelaran Budaya yang menampilkan 10 kelompok seni binaan BPK Maluku serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan dari berbagai daerah.
Penampilan artis lokal dan bintang tamu juga turut mengisi festival.Musik menjadi salah satu kekuatan utama yang ingin terus diperkuat sejalan dengan status Ambon sebagai UNESCO Creative City of Music.
Dody menegaskan seluruh rangkaian Festival Benteng Nieuw Victoria 2026 dirancang bukan sekadar sebagai hiburan.
Festival tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi dan apresiasi budaya, sekaligus wadah penguatan ekonomi kreatif, kolaborasi,dan promosi warisan budaya Maluku.
“Terima kasih pula kepada seluruh sanggar seni, komunitas budaya, dan pelaku UMKM yang telah berpartisipasi dengan penuh semangat,” ungkapnya.
Dody menutup laporannya dengan pantun yang menegaskan pesan utama festival :
Pala cengkih dari Hila,
Dibawa berlayar sampai ke Pulau Buru,
Benteng lama katong jaga samua,
Warisan budaya rangkai dalam harmoni satu.
Sagu salempeng dipatah dua,
Dimakan bersama di atas para-para,
Ambon Manise rumah katong samua,
Mari rangkai budaya, jaga sampai tua.
(CM)



