Implementasikan Kemenag Berdampak, Kanwil Kemenag Maluku Canangkan Gerakan Ekoteologi di Negeri Hatu
CM, MALUKU
Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I. menegaskan jika program Ekoteologi yang menjadi salah satu prioritas nasional Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA merupakan wujud transformasi Kementerian Agama yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal ini disampaikan Kakanwil saat melakukan pencanangan program Ekoteologi dan penanaman pohon di Stasi Santo Carolus Hatu, Paroki Santo Ignasius Laha, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (14/6/2026).
Kakanwil menjelaskan, konsep Ekoteologi menegaskan jika ajaran agama tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan.
“Konsep Kementerian Agama Berdampak menghendaki agar setiap program keagamaan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, Ekoteologi menjadi instrumen penting untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan hidup adalah bagian dari pengamalan iman,” katanya.
Menurutnya, krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan ekologis, melainkan telah menjadi persoalan kemanusiaan dan keagamaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, dan menurunnya kualitas lingkungan hidup merupakan panggilan moral dan spiritual bagi seluruh umat beragama untuk mengambil bagian dalam menjaga kelestarian alam,” ujar Kakanwil.
Orang nomor satu di lingkungan Kemenag Provinsi Maluku itu menambahkan, penanaman pohon yang dilakukan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan simbol komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan kehidupan dan mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang.
“Bumi bukan hanya warisan dari leluhur, tetapi titipan yang harus kita jaga dan wariskan kepada anak cucu kita. Karena itu, setiap pohon yang ditanam hari ini adalah simbol harapan dan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Lebih jauh, Kakanwil menilai kegiatan tersebut memiliki makna strategis karena memperkuat kolaborasi antara Kementerian Agama dan Gereja Katolik Keuskupan Amboina dalam menjawab tantangan lingkungan hidup.
Kolaborasi itu, kata dia, sejalan dengan semangat Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA dan Paus Fransiskus, yang menyerukan pentingnya solidaritas lintas iman dalam menghadapi krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan global.
“Persoalan lingkungan tidak mengenal batas agama maupun wilayah. Karena itu, solusi yang kita bangun juga harus bersifat kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kakanwil juga mengapresiasi Bimbingan Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Maluku, Stasi Santo Carolus Hatu, serta seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, gerakan Ekoteologi harus terus berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan komunitas masyarakat sehingga kesadaran ekologis dapat tumbuh menjadi budaya bersama.
Menariknya, dalam kesempatan itu, Kakanwil turut mengaitkan semangat Ekoteologi dengan pesan Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus. Dokumen tersebut mengajak seluruh umat manusia melakukan pertobatan ekologis melalui perubahan cara pandang dan perilaku terhadap alam.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam Laudato Si’ sangat sejalan dengan program Ekoteologi Kementerian Agama. Keduanya menegaskan bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan panggilan iman dan tanggung jawab moral kepada Tuhan, sesama manusia, dan generasi yang akan datang,” katanya.
Melalui pencanangan program Ekoteologi dan penanaman pohon tersebut, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku berharap lahir kesadaran kolektif bahwa merawat bumi merupakan bagian dari ibadah, kesaksian iman, sekaligus tanggung jawab kebangsaan dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.
“Kita menanam harapan bagi generasi masa depan, merajut harmoni dengan seluruh ciptaan, dan bersama-sama menjaga bumi sebagai rumah bersama yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya.
Adapun kegiatan pencanangan dan penanaman pohon ini merupakan komitmen nyata dan upaya Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku untuk terus memperkuat implementasi program Kementerian Agama Berdampak melalui gerakan Ekoteologi.
Kegiatan bertema “Menanam Harapan, Merajut Ciptaan: Implementasi Ekoteologi Merawat Bumi sebagai Rumah Bersama” itu dihadiri Vikaris Jendral Keuskupan Amboina RD. Anton Kewole, jajaran pejabat Eselon III Kanwil Kemenag Maluku, unsur Forkopimka Leihitu Barat, Pemerintah Negeri Hatu, tokoh agama, Pastor Paroki Santo Ignasius Laha,Dewan Pastoral Paroki, serta umat Katolik Stasi Santo Carolus Hatu.(CM)
